Nilai Filosofi Seni Ukir Jepara Yang Memiliki Harga Eksport Yang Tinggi

Jepara adalah salah satu daerah di Jawa Tengah, Indonesia yang identik dengan mebel dan patung ukir yang terbuat dari kayu. Ketenaran Jepara sebagai kota seni ukir bahkan membuatnya dijuluki sebagai The World of Carving Centre. Tercatat hampir empat ribu unit usaha di bidang seni ukir di Jepara yang hebatnya bisa mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja yang tersebar di belasan kecamatan di daerah tersebut.

Sejarah dan Nilai Filosofi Seni Ukir Jepara

Nilai luhur dari nenek moyang yang meliputi seni dan budaya sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jepara. Salah satu seni dan budaya yang sangat berkembang di kota tersebut adalah seni ukir yang hampir di setiap bagiannya mengandung nilai filosofis budaya Jawa. Ukiran Jepara yang sangat detail tersebut adalah bukti nyata dari filosofi Jawa yang memang kental dengan kesabaran dan ketelitian.

Berbicara mengenai sejarah Jepara yang hingga kini dikenal sebagai kota ukir berawal sejak abad ke-7 tepatnya ketika Kerajaan Kalingga masih dipimpin oleh Ratu Shima, khususnya yang terkait dengan pembuatan istana dan kapal kerajaan tersebut. Kemudian, pada zaman Kerajaan Majapahit, banyak seniman ukir Hindu yang pindah ke Jepara dan sekaligus memperkenalkan motif ukir Majapahit dan Bali.

Pusat para seniman ukir tinggal di Jepara berlokasi di Dusun Belakang Gunung, Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara. Di era kepemimpinan Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin, datang seorang seniman ukir asal Tiongkok bernama Cwie Wie Gwan atau yang juga dikenal dengan nama Sungging Badar Duwung. Seniman asal Tiongkok itulah yang kemudian mengajarkan motif bunga dan daun.

Kemudian, berlanjut pada masa RA Kartini, para seniman ukir Jepara namanya mulai dikenal di dunia internasional. Terangkatnya nama para seniman ukir dan pengrajin kayu asal Jepara di Belanda itu berkat lembaga Oosten West dimana RA Kartini memamerkan dan memasarkan beragam produk ukiran kayu asal Jepara di Belanda. Bukan hanya itu saja, RA Kartini juga berusaha melindungi seni ukir Jepara dengan mengkritik orang-orang yang meremehkan kualitas dari seni ukir Jepara.

Ciri Seni Ukir Jepara

Sebenarnya di Indonesia banyak sekali seni ukir yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, contohnya seperti seni ukir Bali, seni ukir Kudus, seni ukir Mataram, dan masih banyak yang lainnya. Namun, salah satu ciri yang membedakan dengan seni ukir antar daerah itu adalah corak dan motif.

Ciri utama yang paling terlihat dari seni ukir Jepara adalah corak dan motifnya yang dinamis dan variatif. Namun, diantara sekian banyak jenis corak dan motif, daun yang menjalar teratur dan kemudian berujung pada jumbai daun atau motif bunga kipas masih menjadi ciri khas seni ukir Jepara.

Corak daun yang menjalar dikenal dengan istilah trubusan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menjuntai keluar dari ujung tangkai relung. Sementara itu, jumbai daun yang adalah ujung relung ukiran biasanya diukir membentuk bunga kipas berujung runcing. Umumnya, corak terubusan ini diukir ke arah luar dari bingkai mebel atau kerajinan kayu khas Jepara.

Salah satu produk seni ukir Jepara yang paling populer adalah gebyok yang dibuat untuk kegunaan fungsional sebagai penyangga rumah. Oleh sebab itu, meskipun penuh dengan ukiran indah bahan kayu yang digunakan adalah bahan kayu pilihan dan pengukirnya juga merupakan para ahli yang telaten mengerjakan ukiran dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi keindahan seni ukirnya, gebyok memiliki pesan spiritual bagi pemiliknya. Jika diperhatikan dengan teliti, Anda akan dapat melihat ukiran gebyok yang mengandung cerita mengenai tujuan hidup manusia berpadu dengan keharmonisan, kesejahteraan dan juga kedamaian. Hingga saat ini, gebyok masih menjadi salah satu warisan budaya terbaik dari Jepara.

Upaya untuk Terus Mengembangkan Pasar Ekspor Seni Ukir Jepara

Meskipun memiliki harga ekspor tinggi namun seni ukir Jepara juga tidak lepas dari berbagai kendala yang bisa membuat pasar ekspor menjadi terbatas. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Jepara yang sedang dihadapkan pada dua tantangan utama yaitu ketersediaan bahan baku dan pemasaran terus mengupayakan beberapa cara untuk terus mengembangkan pasar ekspor seni ukir Jepara.

  1. Usaha Mengembangkan Jati Rakyat di Lahan Kritis
    Seni ukiran Jepara sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dalam hal ini tentu saja kayu yang bahkan per tahunnya disinyalir mencapai 300.00 hingga 500.000 kubik pokergalaxy. Tentu saja jika hanya mengandalkan Perhutani tidak akan cukup atau setidaknya akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem.
    Oleh sebab itu, mulai dikembangkan jati rakyat di sejumlah lahan kritis yang ada di Jepara dan juga pembuatan mebel yang bahan bakunya menggunakan jenis kayu lain, contohnya seperti kayu damar, kayu pohon pinus, kayu pohon karet, kayu mindi dan lain sebagainya.
  2. Bekerja Sama dengan Daerah Lain
    Untuk memenuhi kebutuhan kayu, Pemerintah Kabupaten Jepara juga membuat jejaring dengan daerah lain agar bisa bekerja sama mempersiapkan suplai kayu yang dibutuhkan pengrajin seni ukir Jepara.
  3. Mengikuti Berbagai Pameran di Dalam dan Luar Negeri
    Selain ketersediaan kayu, tantangan lain yang harus dihadapi oleh para pengrajin seni ukiran Jepara adalah pemasaran produk. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Jepara mengupayakan promosi mebel dan ukiran bukan hanya di pasar nasional namun juga promosi untuk pasar luar negeri. Salah satu cara promosi adalah dengan mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Nilai filosofi berbalut dengan keindahan seni ukir Jepara memang memiliki daya tarik yang sangat tinggi. Meskipun demikian, tetap diperlukan berbagai upaya untuk terus melestarikan seni ukir Jepara sekaligus agar nilai ekspornya juga terus meningkat.